europe style

europe style

Sunday, July 17, 2016

RUMAH UPLIK, SEBUAH KEPEDULIAN TERHADAP ANAK-ANAK DI PELOSOK DESA





Rumah Uplik, itulah yang tertulis di depan sebuah rumah baca, sanggar seni, sanggar tari di sebuah di Dusun Resowinangun, Desa Pledokan Kec. Sumowono. Kab. Semarang, Jawa Tengah. Rumah yang tidak besar dan jauh dari kata mewah, namun didalamnya membawa sebuah harapan besar bagi anak-anak bangsa kususnya di Desa Pledokan, Sumowono.
Waljiono (43) atau sering disapa Pak Walji adalah salah satu dari jutaan orang yang peduli terhadap pendidikan bagi anak-anak kususnya pendidikan moral Pancasila dan kebudayaan Indonesia. Pak Walji adalah pengelola serta pendiri Rumah Uplik yang digunakan sebagai rumah baca, sanggar seni, sanggar tari budaya serta tempat belajar mengajar bagi anak-anak di sekitar dusun resowinangun.
Berawal dari sebuah keprihatinan, pada tahun 2012 Pak Walji mulai terketuk hatinya untuk mengabdi dan peduli terhadap nasib anak bangsa. Pak Walji merasa miris melihat melihat kondisi anak - anak yang semakin hari semakin brutal karena kurangnya pendampingan orang tua ketika menonton tayangan televisi. Dari situ Pak Walji memulai semuanya dari berkeliling desa menggunakan sepeda motor Bravo 1995. Disaat bertemu anak-anak yang sedang bermain kelereng, petak umpet dan lainnya, Pak Walji memanggil dan mengajak mereka untuk membaca buku yang dibawanya. Keberadaan Pak Walji yang sering memberi pinjaman buku kepada anak-anak warga desa, mendapat respon positif bagi orang tua anak-anak di desa tersebut. Dengan berjalannya waktu, Pak Walji memberi ajakan kepada bapak-bapak warga Desa Pledokan untuk mengajak anak-anak lebih sering belajar. “Coba kalau anak-anak bapak pegang HP 3 kali sehari saja, pasti pelajaran disekolah sudah lupa”. Begitu terang Waljiono disaat mengajak bapak-bapak warga Desa Pledokan.


Ajakan tersebut kini berdampak positif. Sejak 22 September 2012, Rumah Uplik menjadi sebuah tempat serta wadah bagi anak-anak sebagai perpustakaan baca dan sanggar seni budaya. Anak-anak di sekitar Desa Pledokan  sangat antusias baik untuk belajar maupun untuk membaca, dan semua itu sama sekali tidak dipungut biaya sama sekali. Keterbatasan buku di sekolah serta jauhnya toko buku dari Desa Pledokan mendorong anak-anak untuk mencari dan meminjam buku di Rumah Uplik untuk belajar. Untuk aktifitas belajar diadakan setiap hari, dari sore hari hingga malam hari kapanpun anak-anak bersedia datang di jam berapapun. Untuk hari minggu jam 5 sore, mereka belajar menari atau yang disebut Hokya Dance, sebuah tari jatilan yang dimodifikasi dengan tari modern.
Namun sayangnya kondisi Rumah Uplik masih banyak kekurangan, baik tempat, terbatasnya jumlah dan jenis buku serta fasilitas-fasilitas belajar lainnya. Rumah Uplik berdiri murni dengan swadaya pribadi dan murni dari panggilan hati nurani akan kepedulian terhadap nasib anak-anak di pelosok desa yang jauh dari fasilitas memadahi seperti kendaraan, angkutan umum dan juga fasilitas internet.
Sampai saat ini, belum ada sentuhan kepedulian dari pemerintah, baik pemerintah Kabupaten maupun Propinsi belum peduli terhadap keberadaan Rumah Uplik. Bahkan seolah pemerintah sama sekali tidak peduli tehadap keberadaan Rumah Uplik. “Dulu pernah ada bantuan dari pemerintah propinsi yang terdahulu (Pak Bibit), beliau menawarkan bantuan dan bantuan itu sudah terealisasi dalam bentuk perbaikan jalan yang menjadi akses masuk ke Dusun Resowinangun, Desa Pledokan ini.” Jelas Waljiono bapak dari dua anak itu. [EWP]

Saturday, June 25, 2016

7 Dosa Citizen Journalism




Penyimpangan Informasi.
Seorang jurnalis profesional  sebaikknya member penegasan apakah tulisannya termasuk jenis reportase, opini atau fiksi. Reportase adalah   laporan warga atau suatu peristiwa yang bersifat breaking news, spot news,  atau hard news.  Spot News adalah pemberitaan langsung pada saat peristiwa atau kejadian itu berlangsung.  Sedangkan fiksi berupa cerpen, cerbung, atau puisi. Sudah seharusnya jurnalis profesional melaporkan fakta yang sebenarnya. Itu adalah syarat mutlak dan sudah menjadi pakem atau standar operasi kerja bagi jurnalis. Berbeda dengan orang awam yang tidak pernah mendapatkan pendidikan mengenai  standar menjadi seorang jurnalis, tidak mengrtahui tentang kode etik jurnalistik, dimana hanya berbekal dan memiliki semangat menulis yang tinggi, lalu melaporkan peristiwa  yang dilihat dan dialaminya melalui media social, tanpa diketahui apakah berita itu dimanipulasi atau tidak. Seharusnya para citizen atau pewarta warga ini tetap menyampaikan informasi yang sebenar-benarnya tanpa adanya manipulasi, karena para pembaca berita tersebut akan mempercayai apa yang ditulis dan dilaporkan para pewarta warga yang dianggap sebagai saksi kejadian ditempat walaupun pewarta warga bukanlah seorang jurnalis profesional.

Contoh: Banyak di beritakan di media online bahwa supporter sepak bola Inggris atau yang dijuluki Hooligan kembali membuat kerusuhan di Prancis ketika pertandingan Euro 2016 yang mempertemukan Inggris kontra Rusia. Suporter Inggris (Hooligan) memang dikenal sebagai supporter yang sering membuat keributan. Pada kejadian ini, sesungguhnya supporter Rusia yang menyerang secara verbal terhadap para supporter Inggris usai pertandingan. Suporter Rusia yang kebanyakan berusia 20-30 tahun menyerang supporter Inggris yang sudah tua-tua. Hingga akhirnya memancing kemarahan Hooligan dengan menyerang kembali menggunakan lemparan botol, kursi, hingga penyemprotan gas air mata yang akhirnya berujung pada kerusuhan antar supporter.

Dari kejadian seperti diatas jelas terjadi penyimpangan informasi pada berita-berita di media-media online yang membuat judul dan isi berita mengenai supporter Inggris yang lagi-lagi membuat keributan. Padahal pembuat keributan yang sebenarnya adalah supporter Rusia.

Dramatisasi Fakta.
Kecenderungan bagi siapapun saat menulis di ruang tertutup menghadapi komputer, ia menjadi tiran bagi dirinya sendiri. Kadang ia tidak menyadari apa yang ditulisnya dapat menyakiti hati seseorang atau golongan. Sering kita jumpai pada media online adanya dramatisasi fakta. Dramatisasi fakta bisa dilakukan dengan kata-kata kasar dalam bentuk teks, cacian serta makian yang jika dibaca dengan keras akan seperti makian sungguhan.

Misal, Ketika seorang Jokowi dijumpai mendayangi kediaman mantan Presiden SBY, pasti akan banyak diberitakan bahwa aka nada komunikasi politik antara Jokowi dan SBY. Padahal Jokowi dan SBY hanya melakukan hubungan silahturahmi dan tidak membahas komunikasi politik sama sekali. Hal-hal semacam inilah yang sering dilakukan baik jurnalis professional atau pewarta warga untuk mendramatisasi fakta.

Serangan privasi.
Ini sering terjadi dikalangan selebritis dan tokoh publik. Banyak para citizen yang meliput, menulis dan melaporkan berita di internet dengan melakukan serangan privasi. Contoh seorang pewarta warga dari jawa timur harus mengungsi dari satu tempat ke tempat yang lain  setelah menuliskan di media online tentang penyimpangan seorang polisi setempat dalam kasus perselingkuhan. Kasus seperti ini termasuk bentuk serangan privasi bagi polisi tersebut, jika citizen dalam menuliskan berita hanya untuk menyerang dan mempermalukan polisi tersebut dengan membuat berita yang belum ada bukti dan belum diketahui kebenarannya.

Pembunuhan Karakter.
Ini sangat sering dilakukan para netizen jurnalistik. Dengan kekuasaannya, pers sering terjebak dalam pembunuhan karakter seseorang yang diserangnya. Begitu pula dengan para citizen yang melakukan penyerangan melalui media online maupun media sosial karena kebencian atau ketidaksukaan kepada seseorang lalu membuat berita yang isinya membunuh karakter. Sebagai contoh pada masa kampanye calon presiden Jokowi vs Prabowo. Banyak tulisan-tulisan baik di media online maupun media sosial yang menyudutkan kejelekan dari masing-masing calon presiden. Seperti Prabowo Subianto memiliki sejarah yang kelam, khususnya saat aktif di militer dalam kasus pelanggar HAM. Jokowi pemimpin tidak tegas, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas dan tidak mau bagaikan 'boneka' apalagi ketika seorang presiden tersebut merupakan pesanan dari bangsa asing maka sudah dapat dipastikan sang presiden akan begitu mudah diatur-atur menurut keinginan dan kebijakan asing.

Eksploitasi Seks.
Praktik eksploitasi seks dilakukan dengan menyebarkan informasi melalui gambar atau video yang mengganggu rasa susila masyarakat pada umumnya. Tidak jarang dijumpai di sebuah halaman web dengan iklan-iklan dengan gambar perempuan berpakaian minim bahkan bugil. 




Juga tak jarang dijumpai gambar dan judul tidak sesuai dengan isi halaman berita tersebut. Sebagai contoh pada sebuah situs nontonbokep.gendok.com memberikan judul berita “ABG Mesum Tertangkap Basah Sama Polisi.” Dimana halaman tersebut jika dibuka menyajikan video-video porno yang sama sekali tidak ada berita mengenai “ABG Mesum Tertangkap Basah Sama Polisi.”

Meracuni pikiran anak.
Ini sebuah praktik yang dilakukan di dunia periklanan yang dengan sendirinya tidak ada kaitan dengan jurnalisme warga. Figur anak dijadikan obyek iklan secara berlebihan untuk memasarkan berbagai produk.

Penyalahgunaan kekuasaan.
Pers atau media sebagai control sosial, mestinya menjadi pengawas bagi tiga pilar Negara yakni Pemerintah (Eksekutif), DPR/Parlemen (Legislatif), Peradilan (Yudikatif). Akan tetapi pada praktiknya pers sering menyalahgunakan kewenangan dengan melebihi kewenangan yang menjadi porsinya sebagai “watchdog” atau penjaga yang mengawasi pemerintah. Sebagai contoh berita-berita yang membentuk opini yang menyesatkan, bentuk tulisan yang bersifat provokatif, penyiaran berita tidak memenuhi kode etik jurnalistik.

[ewp0014]

Monday, January 7, 2013

Thanks to specialized for the new bike and putting on such a great event yesterday. Was a good group of people and so many talented guys. It was nice for everyone to come together for some two wheel fun.