Rumah Uplik, itulah yang tertulis di
depan sebuah rumah baca, sanggar seni, sanggar tari di sebuah di Dusun Resowinangun, Desa Pledokan Kec. Sumowono. Kab.
Semarang, Jawa Tengah. Rumah yang tidak besar dan jauh dari kata mewah, namun
didalamnya membawa sebuah harapan besar bagi anak-anak bangsa kususnya di Desa
Pledokan, Sumowono.
Waljiono (43) atau sering
disapa Pak Walji adalah salah satu dari jutaan orang yang peduli terhadap
pendidikan bagi anak-anak kususnya pendidikan moral Pancasila dan kebudayaan
Indonesia. Pak Walji adalah pengelola serta pendiri Rumah Uplik yang digunakan
sebagai rumah baca, sanggar seni, sanggar tari budaya serta tempat belajar
mengajar bagi anak-anak di sekitar dusun resowinangun.
Berawal dari sebuah keprihatinan,
pada tahun 2012 Pak Walji mulai terketuk hatinya untuk mengabdi dan peduli terhadap
nasib anak bangsa. Pak Walji merasa miris melihat melihat kondisi anak -
anak yang semakin hari semakin brutal karena kurangnya pendampingan orang tua
ketika menonton tayangan televisi. Dari situ Pak Walji memulai semuanya dari berkeliling desa menggunakan
sepeda motor Bravo 1995. Disaat bertemu anak-anak yang sedang bermain kelereng,
petak umpet dan lainnya, Pak Walji memanggil dan mengajak mereka untuk membaca
buku yang dibawanya. Keberadaan Pak Walji yang sering memberi pinjaman buku
kepada anak-anak warga desa, mendapat respon positif bagi orang tua anak-anak
di desa tersebut. Dengan berjalannya waktu, Pak Walji memberi ajakan kepada
bapak-bapak warga Desa Pledokan untuk mengajak anak-anak lebih sering belajar.
“Coba kalau anak-anak bapak pegang HP 3 kali sehari saja, pasti pelajaran
disekolah sudah lupa”. Begitu terang Waljiono disaat mengajak bapak-bapak warga
Desa Pledokan.
Ajakan tersebut kini berdampak
positif. Sejak 22 September 2012, Rumah Uplik menjadi sebuah tempat serta wadah
bagi anak-anak sebagai perpustakaan baca dan sanggar seni budaya. Anak-anak di
sekitar Desa Pledokan sangat antusias
baik untuk belajar maupun untuk membaca, dan semua itu sama sekali tidak
dipungut biaya sama sekali. Keterbatasan buku di sekolah serta jauhnya toko
buku dari Desa Pledokan mendorong anak-anak untuk mencari dan meminjam buku di
Rumah Uplik untuk belajar. Untuk aktifitas belajar
diadakan setiap hari, dari sore hari hingga malam hari kapanpun anak-anak
bersedia datang di jam berapapun. Untuk hari minggu jam 5 sore, mereka belajar
menari atau yang disebut Hokya Dance, sebuah tari jatilan yang dimodifikasi
dengan tari modern.
Namun sayangnya kondisi Rumah Uplik
masih banyak kekurangan, baik tempat, terbatasnya jumlah dan jenis buku serta
fasilitas-fasilitas belajar lainnya. Rumah Uplik
berdiri murni dengan swadaya pribadi dan murni dari panggilan hati nurani akan
kepedulian terhadap nasib anak-anak di pelosok desa yang jauh dari fasilitas
memadahi seperti kendaraan, angkutan umum dan juga fasilitas internet.
Sampai saat ini, belum ada sentuhan
kepedulian dari pemerintah, baik pemerintah Kabupaten
maupun Propinsi belum peduli terhadap keberadaan Rumah Uplik. Bahkan seolah
pemerintah sama sekali tidak peduli tehadap keberadaan Rumah Uplik. “Dulu
pernah ada bantuan dari pemerintah propinsi yang terdahulu (Pak Bibit), beliau
menawarkan bantuan dan bantuan itu sudah terealisasi dalam bentuk perbaikan
jalan yang menjadi akses masuk ke Dusun Resowinangun, Desa Pledokan ini.” Jelas
Waljiono bapak dari dua anak itu. [EWP]









